Berpolitiklah…!, Campakkan Komunisme dan Sekularisme [Khutbah Jum’at]

َاَلْحَمْدُ لِلّٰه ِاَّلذِيْ اأَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْىهُدَى وَ دِيْنِ الْحَقْ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَ لَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْن ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰه إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلأُ مِّيِّ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَجَمِيْعِ أُمَّتِهِ وسَلَّمَ {أَمَّابَعْدُ}
فَيَاعِبَادَالله، أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ وَافْعَلُوا الْخَيْرَاتِ وَاجْتَنِبُوا السَّيِّئَاتِ لَعَلَكُمْ تُفْلِحُوْنَ. اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُونَ. قاَلَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْأَنِ الْعَظِيْمِ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ – 2:208

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Yang pertama dan paling utama marilah kita selalu bersyukur kepada Allah, atas segala nikmat Nya yang selalu tercurah kepada kita semua sehingga pada kesempatan ini kita dapat berkumpul untuk melaksanakan kewajiban kita menunaikan ibadah sholat jum’at.
Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Sayyidina wa Maulana Muhammadin Sholallohu ‘Alaihi Wa-Sallam, yang kita harapkan syafaat nya di hari kiamat.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Marilah kita Bersama-sama untuk selalu meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah yakni dengan menjalankan syariat Islam secara keseluruhan dalam semua aspek kehidupan.
Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ – 2:208

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqoroh[2] : 208)

“Udkhulu fis-Silmi” bermakna bahwa kita (Orang-orang yang beriman) diperintahkan untuk taat pada seluruh aturan Islam, “Kaffah” secara keseluruhan, dalam semua aspek kehidupan.
Ini adalah konsekuensi dari keimanan kita, agar kita dapat mencapai derajat muttaqin. Orang yang bertaqwa.
Setelah kita beriman, memeluk aqidah Islam “Amantu biLLahi, warasulihi, wakutubihi, wa malaikatihi, wal yaumil akhiri, wal qodlo’i qodari khoiriha wa sarriha minallahi ta’ala”. Maka kita harus merealisasikan dalam kehidupan kita yakni dengan terikat dengan hukum-hukum Islam secara keseluruhan dan meninggalkan semua hukum dan pemikiran-pemikiran jahiliyyah yang bertentangan dengan Islam.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Di antara pemikiran jahiliyyah yang bertentangan dengan Islam adalah paham komunisme, marxisme-leninisme.
Pemikiran Komunisme ini dibangun dari pandangan bahwa alam semesta, manusia, dan hidup adalah materi (benda). Bahwa materi adalah awal dari segala sesuatu. Pemikiran ini mengingkari penciptaan alam ini oleh Allah, Mengingkari adanya Allah sebagai sang Pencipta.
Maka paham ini, paham komunisme, marxisme-leninisme wajib kita tinggalkan karena sangat jelas bertentangan dengan Islam.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Selain komunisme ada pula pemikiran lain yang bertentangan dengan Islam yang juga tengah berkembang di tengah-tengah masyarakat. Pemikiran tersebut adalah Sekularisme.
Sekularisme adalah “Fashlud-Diin ‘anil-Hayah” Pemikiran yang memisahkan antara Agama dan Kehidupan.
Paham sekularisme tidak mengingkari adanya Allah sebagai Al-Khaliq secara mutlak, namun penganut sekularisme enggan diatur dengan hukum Islam dalam kehidupan. Dengan kata lain, mengimani sebagian dan mengingkari sebagian yang lain. Allah SWT berfirman:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ – 2:85

“Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian (yang lain)? Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Albaqoroh[2] : 85)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Terkadang kita tidak sadar dengan keberadaan paham sekularisme ini. Kita selalu fokus pada ibadah mahdhoh agar semakin dekat dengan Allah. Namun terkadang dalam kehidupan diluar ibadah kita abai terhadap aturan Islam. Dalam bekerja, bermasyarakat, berpolitik dan bernegara.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Sekularisme secara jelas telah memisahkan antara agama dengan politik, sekularisme telah memisahkan antara negara dengan agama.
Sehingga banyak politisi yang berpikiran bahwa “Jika berpolitik jangan bawa-bawa agama” Pun demikian terkadang ada tokoh agama yang mengatakan bahwa “Jika bicara Agama jangan bawa-bawa politik”
Maka akibatnya banyak kebijakan politik yang tidak sesuai dengan syariat Islam, banyak undang-undang yang bahkan bertentangan dengan syariat Islam. Demikian juga dengan agama, sering hanya dijadikan tumbal politik. Banyak tokoh agama yang hanya didekati menjelang pemilu demi untuk mendapatkan kekuasaan semata, namun setelah berkuasa aturan agama justru diabaikan.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Negara dan Agama adalah dua hal yang tak dapat di pisahkan dan saling berkaitan. Bernegara harus didasari dengan Agama, sehingga keberadaan Negara mampu menjaga Agama, dan keberadaan Agama Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin akan dapat benar-benar terwujud. Sebagaimana diungkapkan oleh Hujjatul Islam Al-Imam Al-Ghozali dalam Al-Iqtishad fil I’tiqad:

الدِّيْنُ وَالسُّلْطَانُ تَوْأَمَانِ
الدِّيْنُ أَسُّو السُّلْطَانُ حَاِرسً، فَمَا أَسَّ لَهُ مَهْدُوْمٌ، وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

“Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah fondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu tanpa fondasi pasti akan runtuh dan sesuatu tanpa penjaga pasti akan hilang.”

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Ada hukum Islam yang langsung dapat dilaksanakan oleh individu dan tidak ada kaitannya dengan politik, namun Banyak hukum-hukum Islam yang hanya dapat dilaksanakan dengan kebijakan politik (wa bil khusus) Hukum yang berkaitan dengan urusan ummat seperti ekonomi, keamanan dsb.
Satu contoh ketika kita diperintahkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ – 2:183

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Albaqoroh[2] : 183)

Maka kita dengan suka cita menyambut perintah itu. Namun manakala kita diperintahkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى ۖ الْحُىرُّ بِالْحُىرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنثَىٰ بِالْأُنثَىٰ – 2:178

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu (melaksanakan) qisas berkenaan dengan orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, perempuan dengan perempuan.” (QS Albaqoroh[2] : 178)

Maka bagaimana sikap kita? Apakah sama dengan menyambut perintah puasa?
Mungkin ada yang menyadari bahwa itu adalah kewajiban, namun hal tersebut tidak dapat terlaksana tanpa adanya kebijakan politik. Namun ada pula yang menolak dengan banyak dalih, mengatakan kejam dan lain sebagainya. Padahal Allah telah menegaskan.

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ – 2:179

“Dan dalam qisas itu ada (jaminan) kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal, agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqoroh[2] : 179)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Tidak terlaksananya hukum Qisas ini dan hukum-hukum lain yang hanya bisa dilaksanakan oleh negara merupakan tanggung jawab kita bersama sabagai orang-orang yang beriman. Karena perintah itu bukan di khususkan untuk pemimpin tetapi kepada seluruh kaum mu’minin.
Maka hal ini menuntut kita untuk terlibat dalam urusan politik yang dalam bahasa arab di sebut dengan siyasah atau mengurus urusan ummat di dalam dan luar negeri.
Namun politik bukan sembarang politik, bukan politik pragmatis yang hanya berebut kekuasaan.
Kita kaum muslimin harus terlibat dalam Politik Islam, Yakni “Mengurusi Urusan Ummat (di dalam dan luar negeri) dengan syariat Islam”.
Bicara politik, maka harus adanya organisasi atau institusi pelaksana dan itu adalah Negara. Dan negara dapat berjalan karena adanya sistem yang menopangnya atau sistem pemerintahan. Dalam Islam Sistem pemerintahan tersebut adalah Khilafah, atau sering juga disebut dengan Imamah.
Khilafah adalah “kepemimpinan umum bagi ummat Islam untuk menerapkan hukum-hukum Islam secara menyeluruh dan menyebarkan ajaran Islam dengan dakwah dan jihad ke seluruh penjuru dunia”.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Agar Khilafah atau pemerintahan Islam dapat terwujud, maka diperlukan kesadaran kolektif. Maka para pejabat, para penguasa, para politisi tidak bisa tidak, harus memahami Politik Islam dengan benar dan berupaya untuk menerapkan nya secara legal formal dalam negara. Demikian pula dengan tokoh-tokoh agama, para ustadz, harus mendidik mayarakat tentang wajibnya penerapan syariat Islam oleh negara, maka para pembimbing ummat, selain mengajarkan fiqih Ibadah maka juga wajib mengajarkan fiqih siyasah kepada Ummat, agar kesadaran kolektif akan wajibnya penerapan syariat Islam secara Kaffah terbentuk sehingga perubahan untuk menerapkan hukum Islam secara menyeluruh dapat terwujud secara damai karena dilandasi dengan kesadaran kolektif dari seluruh elemen Ummat.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Kita semua tahu bahwa kita terutama diri khatib pribadi jauh dari sempurna. Tapi jangan jadikan ketidak sempurnaan ini untuk tidak terlibat dalam perjuangan penerapan Islam. Maka kita semua wajib terlibat dalam kegiatan Amar Ma’ruf Nahiy Munkar.
Mengajak kepada kebaikan bukan berarti diri merasa paling baik, namun agar kita semua dapat melaksanakan kebaikan secara bersama-sama.
Begitu pula ketika kita mencegah saudara kita dari berbuat mungkar, bukan berarti diri kita paling suci. Tapi agar kita dapat bersama sama dalam ketaatan. Semoga Allah Istiqomahkan kita dalam ketaatan kepada Allah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإيَّا كُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْر ِالْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

Khutbah Jum’at [Khutbah Ke-2]

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرِ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا {اَمَّا بَعْدُ}
فَيَآ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا اَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهىَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ اَمَرَ كُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَـنَى بِمَلَآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلَآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى يٰآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ اْلمىُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ، اَللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفٰاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِى، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمىُؤْمِنَاتِ، وَاْلمىُسْلِمِيْنَ وَاْلمىُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سُوْرِيَا، وَفِيْ فِلِسْطِيْنَ، وَ فِيْ الْيَمَنِ، وَ فِيْ أَفْرِيْقِيَا، وَ فِيْ اِرَاقْ، وَ فِيْ أَفْغَانِسْتَانَ،
اَللَّهُمَّ أَنْجِ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ رُوهِيْنغِيَا، و فِيْ فَتَّنِي، وَ فِيْ اُئِيْغُورْ، وَ فِيْ فِلِسْطِيْنَ، وَ فِيْ سُوْرِيَا، وَ فِيْ كُلِّ مَكَان.
اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ إِنْدُ نِسِيَا. اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَفِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْفَسِقِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الظَّلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْمُنَفِقِينَ.
اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ كُلِّ بِقَاعِ الأَرْضِ.
اَللّٰهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلَامَ وَاْلمىُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمىُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمىُوَحِّدِيَّةَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمىُسْلِمِيْنَ، وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ، وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً، وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمىُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
اللّٰ‍‍‍‍‍‍‍هُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ، وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا الجْتِنَابَهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْناَ مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتَآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْ كُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْ كُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Kemerdekaan, Taraf Berpikir, dan Keterjajahan

Hari ini diperingati sebagai hari kemerdekaan Negara Indonesia. Dan kini kita telah memasuki tahun ke-72 semenjak bangsa ini menyatakan (mem-Proklamasi-kan) diri sebagai sebuah bangsa yang merdeka dan memiliki nama Indonesia. 72 tahun adalah perjalanan yang cukup panjang.

Kemerdekaan ini secara dhohir kita dapatkan melalui perjuangan panjang, perlawanan terhadap penjajah, namun pada hakikat nya kemerdekaan ini merupakan Rahmat Allah. Oleh karena itu, kemerdekaan merupakan nikmat dari Allah yang wajib kita syukuri.

Sejauh pengamatan saya, dari tahun ke tahun, sepanjang bulan Agustus di belahan bumi Indonesia selalu meriah. Entah itu hanya sebagai rasa syukur, atau hanya sekedar peringatan dan memeriahkan saja.

Kembali kepada kemerdekaan yang wajib kita syukuri. Secara sederhana, dalam Islam rasa syukur itu diungkapkan dalam kalimat thoyyibah, yakni tahmid, Alhamdulillah. Namun rasa syukur itu dapat di ejawantahkan  dalam perbuatan. Perbuatan semacam apa? Tentu perbuatan baik yang diridhoi oleh Sang pemberi nikmat, Allah SWT. Rasulullah SAW mensyukuri hari kelahirannya dengan cara berpuasa.

Lalu bagaimana mensyukuri nikmat kemerdekaan?. Sederhana. Isi kemerdekaan dengan hal yang diridhoi oleh Allah SWT. Laksanakan segala apa yang Allah perintahkan, dan tinggalkan segala apa yang Allah larang. Maka ketika ini dapat terlaksana dengan sempurna, itulah kemerdekaan.

Namun saat ini, kemerdekaan dimaknai secara luas. Dan pemaknaan ini pun dipengaruhi oleh taraf berpikir seseorang. Jika boleh, saya akan urutkan taraf berpikir seseorang berdasarkan pemaknaan nya terhadap kemerdekaan. Atau setidaknya saya akan ungkap taraf berfikir terendah dan tertinggi saja. Karena diantara kedua nya banyak tingkatan-tingkatan lainnya.

Secara bahasa, merdeka berarti “bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri”. Dari makna secara bahasa inilah kemudian akan berkembang pemaknaan-pemaknaan lain terhadap kemerdekaan.

Maka taraf berpikir terendah seseorang akan memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan yang tanpa batas, kebebasan merupakan kebebasan melakukan segala sesuatu. Pemikiran semacam ini bahkan dapat mengantarkan seseorang atau suatu bangsa menjadi penjajah.

Sedangkan taraf berpikir tertinggi, maka akan memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan dari ketundukan kepada makhluk menuju kepada ketundukan kepada Sang Pencipta makhluk, dan saya menyebut ini sebagai “Kemerdekaan Hakiki”.

Pemaknaan semacam ini (Kemerdekaan Hakiki) jika di implementasikan dalam kehidupan secara individu akan menjadikan seseorang sebagai pribadi yang unggul dan berakhlaqul karimah (berbudi pekerti luhur). Jika di implementasikan dalam keluarga maka akan tercipta keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah. Penuh kasih sayang. Dan jika hal ini di implementasikan secara kolektif oleh sebuah bangsa, bahkan oleh Negara secara legal formal maka akan tercipta Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur, Negoro Ayem Tentrem Toto Raharjo Gemah Ripah Loh Jinawi.

Namun jika hal ini ditinggalkan maka yang terjadi adalah keterjajahan. Ya, keterjajahan. Hidup ini pilihan. Kita dituntut untuk menentukan pilihan, jika kita tidak mengambil satu pilihan maka artinya kita memilih untuk mengambil pilihan yang lain. Dan ketika kita memilih untuk tidak memilih pun itu merupakan suatu pilihan.

Artinya jika kita ingin menggapai kemerdekaan hakiki, maka pilihannya adalah dengan tunduk dan patuh sepenuhnya kepada Al-Khaliq, Allah SWT yang menciptakan manusia, alam semesta dan segala sesuatu yang ada di dalam nya dan yang meliputi nya. Jika kita tidak mengambil pilihan ini maka artinya kita telah memilih untuk tunduk patuh kepada selain Allah, baik sebagian maupun keseluruhan, artinya jika tidak tunduk kepada Allah maka kita memilih untuk tunduk kepada makhluk. Itulah dua pilihan yang kita harus pilih salah satunya. Kita tidak bisa berlepas dari keduanya, karena fitrahnya manusia itu tunduk pada keteraturan.

My.ID | This is My Digital Identity

Setelah sekian lama tidak menulis (nge-blog) hingga berakibat pada terhapusnya domain TLD yang saya miliki bulan lalu, tiba-tiba malam ini terpikir untuk kembali nge-blog.

Namun saya kok, rasanya tidak puas kalau memakai domain yang gratisan dan umum semacam blogspot.com atau wordpress.com. Saya sih pinginnya pake .id tapi kalo pakai TLD .id kan harganya lumayan mahal… 🙂 jadi yah paling mesti yang pake second level. Lagi pula PANDI juga sudah meluncurkan domain tingkat 2 yang memang diperuntukkan bagi penggunaan personal yakni .my.id.

Penggunaan domain semacam ini buat saya adalah sebagai identitas digital, karena memang sekarang sudah zamannya digital. Akhirnya saya browsing mungkin saja sedang ada promo domain.id yang lagi murah murah sehingga bisa punya domain lagi.

Pucuk di cita ulam pun tiba. Saya bukannya mendapatkan domain murah malah mendapatan domain.my.id secara GRATIS plus hosting nya dengan kapasitas 500 MB.

Karena ini adalah sebagai identitas, maka saya daftarkan domain sesuai dengan nama saya yakni nursaleh.my.id. Dan ternyata meski masih banyak registrar yang membanderol domain .my.id ini dengan harga di kisaran 50-an ribu per tahun nyatanya domain ini saat ini bisa didapatkan secara gratis bagi seluruh warga Indonesia. Syaratnya punya NIK alias Nomor Induk Kependudukan, dan sudah berusia diatas 13 Tahun.

Mau tahu bagaimana cara mendapatkan domain.my.id seara gratis plus hostingnya yang berkapasitas 500 MB? Nantikan postingan saya selanjutnya. Insya Allah saya akan bahas soal ini.

Marhaban Yaa Ramadhan: Masuklah kedalam Islam Keseluruhan

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqoroh:208)

Kita masih suka pilih-pilih dalam ber-Islam, padahal ajaran Islam itu untuk diamalkan seluruhnya bukan sebagiannya.

Kita masih sering menganggap bahwa ajaran Islam itu hanya mengatur masalah ibadah mahdoh saja (Sholat, puasa, zakat, haji, dan semisalnya), padahal Islam juga mengurus masalah muamalah juga (ekonomi, politik, sosial dan semisalnya)

Kita memang sadar akan kewajiban sholat, namun masih enggan menutup aurat diluar sholat, padahal keduanya sama wajibnya.
Walhasil kita laksanakan kewajiban sholat, tapi mengabaikan kewajiban menutup aurat (kita masih suka main bola pakai celana pendek/menampakkan paha, yang wanita masih enggan berhijab, masih suka menampakkan lekukan tubuhnya, dan melakukan perbuatan semisalnya).
Kita memang sadari wajibnya puasa, namun melalaikan larangan berduaan antara lelaki dan wanita yang bukan mahramnya. Sehingga kita laksanakan kewajiban puasa di siang harinya namun menjalankan maksiat pacaran pada malamnya.
Kita sadari kewajiban zakat dan dengan sadar menunaikannya, namun secara sadar pula kita mengambil riba yang sangat jelas keharamannya.
Kita tunaikan haji setiap tahunnya, namun enggan mengatur Negara dengan syari’at NYA.
Semoga Ramadhan kali ini menjadi sarana latihan bagi kita untuk memperbaiki diri, untuk berlatih ber-Islam secara kaaffah, untuk masuk Islam secara keseluruhan.
Semoga Ramadhan kali ini kita bisa ta’at sepenuhnya tanpa pilih-pilih kewajiban untuk dilaksanakan, dan tidak pilih-pilih larangan untuk ditinggalkan.
Semoga Ramadhan kali ini kita bisa membiasakan diri dengan Islam yang bukan hanya mengatur ibadah mahdoh saja, namun mengurusi muamalah juga.
Semoga ramadhan kali ini semakin mendekatkan kita akan pertolongan Allah, untuk tegakknya Islam Kaaffah dalam naungan Khilafah ‘ala minhaj-in Nubuwwah. Aamiin…..

Pancasila: Teks atau Nilai…?

Teks atau Nilai?

– Pancasila itu sudah sesuai dengan Islam, Pancasila itu mengadopsi Syari’at Islam.

– Benar…!, maka tidak berdosa mengamalkan Pancasila. Maka merupakan suatu kebaikan mengamalkan Pancasila, karena berarti kita telah mengamalkan SEBAGIAN Syariat Islam.

– Namun Islam harus dijalankan secara keseluruhan bukan sebagian, diamalkan secara kaaffaah tidak setengah-setengah.

– Maka dengan menerapkan dan mengamalkan syariat Islam, secara otomatis kita sudah menerapkan dan mengamalkan Pancasila. Dan dengan menerapkan serta mengamal Pancasila kitapun sudah menerapkan dan mengamalkan Islam sebagian, namun MENAFIKKAN sebagian yang lain.

Asumsi Islamophobia

ASUMSI: Jika Syari’at Islam diterapkan, maka akan membahayakan muslim di daerah-daerah dimana muslim menjadi minoritas.

FAKTA: Syariat Islam (saat ini) tidak diterapkan dan Umat Islam terdzolimi tidak ada yang membela. Muslimah di Bali, di Papua berhijab dilarang dan di diskriminasi kemudian kita dibungkam atas nama toleransi.

Obat, hanya akan menjadi obat jika dikonsumsi. Ia akan menjadi perantara kesembuhan jika dikonsumsi. Obat yang hanya dipajang di etalase, selamanya tidak pernah menjadi perentara kesembuhan bagi sakit seseorang.

Islam adalah Rahmat bagi Seluruh Alam, dan itu hanya akan terjadi jika diterapkan dan diamalkan.

Islam Rahmatan lil ‘Alamin hanya ada dalam khayalan jika hanya dijadikan slogan, hanya kajian tanpa penerapan dan pengamalan.

Jatuh itu Sakit

Temans, kalian pernah jatuh?
Sakit kan….?
Makanya jangan suka jatuh, ya…!
– Kalau Jatuh Cinta…?
Sama aja, yang namanya jatuh itu sakit.
Gak percaya?
Coba aja kamu jatuh cinta sama orang yang gak pernah dan gak akan pernah mencintaimu, pasti sakit. Kalo gak keliatan sakit juga paling cuma pura-pura tegar, tapi dalemannya mah hancur luluh lantak.