Kemerdekaan, Taraf Berpikir, dan Keterjajahan

Hari ini diperingati sebagai hari kemerdekaan Negara Indonesia. Dan kini kita telah memasuki tahun ke-72 semenjak bangsa ini menyatakan (mem-Proklamasi-kan) diri sebagai sebuah bangsa yang merdeka dan memiliki nama Indonesia. 72 tahun adalah perjalanan yang cukup panjang.

Kemerdekaan ini secara dhohir kita dapatkan melalui perjuangan panjang, perlawanan terhadap penjajah, namun pada hakikat nya kemerdekaan ini merupakan Rahmat Allah. Oleh karena itu, kemerdekaan merupakan nikmat dari Allah yang wajib kita syukuri.

Sejauh pengamatan saya, dari tahun ke tahun, sepanjang bulan Agustus di belahan bumi Indonesia selalu meriah. Entah itu hanya sebagai rasa syukur, atau hanya sekedar peringatan dan memeriahkan saja.

Kembali kepada kemerdekaan yang wajib kita syukuri. Secara sederhana, dalam Islam rasa syukur itu diungkapkan dalam kalimat thoyyibah, yakni tahmid, Alhamdulillah. Namun rasa syukur itu dapat di ejawantahkan  dalam perbuatan. Perbuatan semacam apa? Tentu perbuatan baik yang diridhoi oleh Sang pemberi nikmat, Allah SWT. Rasulullah SAW mensyukuri hari kelahirannya dengan cara berpuasa.

Lalu bagaimana mensyukuri nikmat kemerdekaan?. Sederhana. Isi kemerdekaan dengan hal yang diridhoi oleh Allah SWT. Laksanakan segala apa yang Allah perintahkan, dan tinggalkan segala apa yang Allah larang. Maka ketika ini dapat terlaksana dengan sempurna, itulah kemerdekaan.

Namun saat ini, kemerdekaan dimaknai secara luas. Dan pemaknaan ini pun dipengaruhi oleh taraf berpikir seseorang. Jika boleh, saya akan urutkan taraf berpikir seseorang berdasarkan pemaknaan nya terhadap kemerdekaan. Atau setidaknya saya akan ungkap taraf berfikir terendah dan tertinggi saja. Karena diantara kedua nya banyak tingkatan-tingkatan lainnya.

Secara bahasa, merdeka berarti “bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri”. Dari makna secara bahasa inilah kemudian akan berkembang pemaknaan-pemaknaan lain terhadap kemerdekaan.

Maka taraf berpikir terendah seseorang akan memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan yang tanpa batas, kebebasan merupakan kebebasan melakukan segala sesuatu. Pemikiran semacam ini bahkan dapat mengantarkan seseorang atau suatu bangsa menjadi penjajah.

Sedangkan taraf berpikir tertinggi, maka akan memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan dari ketundukan kepada makhluk menuju kepada ketundukan kepada Sang Pencipta makhluk, dan saya menyebut ini sebagai “Kemerdekaan Hakiki”.

Pemaknaan semacam ini (Kemerdekaan Hakiki) jika di implementasikan dalam kehidupan secara individu akan menjadikan seseorang sebagai pribadi yang unggul dan berakhlaqul karimah (berbudi pekerti luhur). Jika di implementasikan dalam keluarga maka akan tercipta keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah. Penuh kasih sayang. Dan jika hal ini di implementasikan secara kolektif oleh sebuah bangsa, bahkan oleh Negara secara legal formal maka akan tercipta Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur, Negoro Ayem Tentrem Toto Raharjo Gemah Ripah Loh Jinawi.

Namun jika hal ini ditinggalkan maka yang terjadi adalah keterjajahan. Ya, keterjajahan. Hidup ini pilihan. Kita dituntut untuk menentukan pilihan, jika kita tidak mengambil satu pilihan maka artinya kita memilih untuk mengambil pilihan yang lain. Dan ketika kita memilih untuk tidak memilih pun itu merupakan suatu pilihan.

Artinya jika kita ingin menggapai kemerdekaan hakiki, maka pilihannya adalah dengan tunduk dan patuh sepenuhnya kepada Al-Khaliq, Allah SWT yang menciptakan manusia, alam semesta dan segala sesuatu yang ada di dalam nya dan yang meliputi nya. Jika kita tidak mengambil pilihan ini maka artinya kita telah memilih untuk tunduk patuh kepada selain Allah, baik sebagian maupun keseluruhan, artinya jika tidak tunduk kepada Allah maka kita memilih untuk tunduk kepada makhluk. Itulah dua pilihan yang kita harus pilih salah satunya. Kita tidak bisa berlepas dari keduanya, karena fitrahnya manusia itu tunduk pada keteraturan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *